Kegiatan|

MOJOKERTO, BIDIK – Seminar Green Energy untuk kedaulatan energi nasional merupakan holaqoh yang diprakarsai langsung oleh Prof. Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim, M.Ag., dilaksanakan secara offline di Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, dan juga secara online melalui google meet, Jum’at (05/03). Seminar ini diharapkan mampu berdampak pada kesejahteraan serta terwujudnya keadilan dan kemakmuran Indonesia. Prof. Dr. Asep Syaifuddin Chalim. M. Ag turut mengundang salah seorang pemerhati lingkungan, Emy Hafild, sebagai pemateri dalam seminar yang bertemakan, “Permasalahan Global Energi, Krisis Energi dan Pembangunan Berkelanjutan.”

Dalam materinya, Emy Hafild menyampaikan terkait krisis global yang diperkirakan akan dihadapi dunia pada tahun 2050 mendatang, jika saat ini tidak ada tindakan pencegahan. Indonesia merupakan bagian dari PBB yang diakui dunia, telah sepakat untuk mencapai tujuan pembagunan berkelanjutan untuk energi yang terjangkau dan bersih bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Berbicara tentang Indonesia, keinginan kita adalah untuk berdaulat di negeri sendiri. Maka kedaulatan energi yang berkelanjutan di Indonesia harus kita capai,” tutur Emy.

Terpotret oleh BIDIK, Prof. Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim, M.Ag Sedang memberikan sambutan (Jajang/BIDIK)

Adanya rumah kaca akan berdampak pada kerusakan lapisan atmosfer yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Selain itu, penebalan gas rumah kaca juga terjadi disebabkan oleh minyak bumi dan batu bara yang ditemukan pada akhir abad ke-18 (sekitar tahun 1890), mulai dieksploitasi secara besar-besaran pada abad ke-20. Hal tersebut menghasilkan gas karbon dan CO2 yang berlebih. Tak hanya itu, populasi manusia dan hewan yang semakin meningkat dapat menyebabkan pembentukan gas metana berlebih dari kotorannya, juga berakibat pada penebalan gas rumah kaca. Oleh karena itu, diperkirakan pada tahun 2050 akan terjadi kenaikan suhu udara sebesar 3%, yang berdampak pada perubahan iklim di dunia. Kondisi ini juga akan mengakibatkan terjadinya pencairan es, yang beresiko hilangnya sekitar 3,4 juta populasi hewan di muka bumi ini.

“Di Mojokerto, kalau mau membakar dan mengelola limbah harus membuat perusahaan dengan SOP yang sesuai standar. Sehingga, masyarakat diharapkan dapat hidup berdampingan dengan panas bumi yang merupakan energi hijau.” Pungkas Emy Hafild. (Wike/Syn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window