IQT IKHAC HADIRI SEMINAR NASIONAL TAFSIR PRAGMATIS: MEREFLEKSIKAN AL-QURAN DI TENGAH MASYARAKAT

IQT IKHAC HADIRI SEMINAR NASIONAL TAFSIR PRAGMATIS: MEREFLEKSIKAN AL-QURAN DI TENGAH MASYARAKAT

August 19, 2020 0 By PPTI IKHAC

Sabtu, 15 Februari 2020 Mahasiswa Ilmu Al-qur’an & Tafsir Institut Pesantren KH. Abdul Chalim menghadiri Seminar Nasional yang diadakan oleh HMP IAT UIN Sunan Ampel Surabaya dengan mengangkat tema Tafsir Pragmatis : Merefleksikan Al-qur’an di Tengah Masyarakat. Acara ini merupakan rangkaian acara terakhir yang dilaksanakan oleh HMP IAT UIN Sunan Ampel dalam Rangka Dies Natalis Ke-4 Prodi Ilmu al-Qurán dan Tafsir yang diberi nama MUSYTAQ (Milad lil Ukhuwah al-Syazanah ‘ala Tafsir al-Quran).

Seminar Nasional ini bisa dikatakan seminar yang sangat istimewa, dikarenakan dihadiri langsung oleh para ahli dibidang Ilmu Al-qur’an & Tafsir itu sendiri, yakni Bapak Dr. H. Fahruddin Faiz, S. Ag, M. Ag (Dosen Aqidah dan Filsafat UIN Kalijaga), dan Bapak Dr. Phil. Sahiron, MA (Ketua Umum Asosiasi Ilmu Al-quran dan Tafsir, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga) serta dimoderatori oleh Bapak Fejrian Yazdajid Iwanebel, M. Hum (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya).

Dr. Fahruddin Faiz menerangkan dalam perspektif filsafat, bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-qur’an maupun hadits, tentunya harus diperhatikan :
1. Teori tindakan yg normatif, yakni berpegang teguh pada norma, aturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
2. Tindakan teleologis, yakni sesuai dengan aspek maslahat, manfaat, serta melihat dari segi tujuannya.
3. Situasional (kontekstual).

Dalam pemaparannya, Dr. Phil Sahiron, menyampaikan bahwa Prodi Al-Qur’an dan Tafsir dalam menafsirkan seharusnya terkandung dua hal: Pertama, das-sein adalah mendeskripsikan royalitas teks. Kedua, das-sollen adalah segala sesuatu yang mengharuskan kita untuk berinteraksi dengan teks Al-Qur’an dan Hadits.

Menurut Dr. Phil Sahiron, untuk konteks kekinian di Indonesia pendekatan yang paling tepat untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Hadits adalah pendekatan cum-maghza, pada dasarnya pendekatan cum-maghza mengembangkan Quasi objektivis progresif baik yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd, Fazlur Rahman, Abdullah Sa’id, dan lainnya. Ma’na cum-maghza ini mungkin tepat, sekalipun kita harus selalu mempercayai koridor relavitas kebenarannya.

Pendekatan ma’na cum-maghza adalah :
1. Suatu pendekatan seorang mufassir memperhatikan makna historis dari sebuah teks, menangkap signifikansi historis, historis sama dengan Al-Ma’na At-tarikhi, Al-Ma’nal-Ashli yang terkait dengan lafadz-lafadz baik itu semantik atau sintesis. Ma’na historis adalah sebuah makna yang mungkin dimaksudkan oleh Allah ketika menurunkan ayat tertentu dan yang dimaksudkan oleh hadits Nabi ketika beliau menyampaikan kepada para sahabatnya.
2. Menangkap Al-Maghza At-Tarikhi atau Al-maqshod At-Tarikhi atau maqshud ayat dan hadits pada masa Nabi.
3. Mengembangkan Al-Maghza At-Tarikhi: signifikansi tujuan ayat al-qur’an dan hadits untuk masa kekinian.