06 Maret 2016, Prodi Ekonomi Syariah Institut KH. Abdul Chalim bekerja sama dengan al-Syami menyelenggarakan seminar internasional yang bertema “as-Shira’ al-Iqtishadi> al-‘A>lami> min Mandhu>r al-Iqtis}a>d al-Isla>mi> (Global Economic Conflict in The Perspective of Islamic Economy).” Dengan nara sumber Prof. Dr. Muhammad Taufiq Ramadhan al-Bouthi, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus.

Acara yang bertempat di Masjid Raya KH. Abdul Chalim ini semakin semarak dengan antusiasme mahasiswa IKHAC, para dosen, guru dan semua santri Amanatul Ummah. Mengenai masalah konflik ekonomi, beliau mengungkapkan bahwa politik ekonomi yang melatar belakangi konflik global sebenarnya berakar dari keserakahan Amerika dan sekutunya yang ingin menguasai sumber-sumber ekonomi dunia, terutama negara-negara muslim. Sementara itu, di saat yang sama umat Islam sibuk dengan konflik sesamanya karena perbedaan kelompok, syi’ah-sunni, arab-non arab, negara muslim ini-negara muslim itu dan lainnya. “Hal yang harus dilakukan oleh umat Islam saat ini adalah usaha semaksimal mungkin untuk senantiasa menjaga sumber daya ekonomi negara kita masing-masing dari ancaman pencaplokan negara-negara seperti Amerika dan yang lainnya.” terangnya.

foto1
Prof. Dr. Muhammad Taufiq Ramadhan al-Buthi, Ketua Perhimpunan Ulama Syam dan Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, ketika memberikan kuliah umum di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

Selain pembahasan tentang ekonomi, Ketua Persatuan Ulama Syam ini juga menyinggung tentang etika santri atau penuntut ilmu. “Tujuan hidup kita adalah diterimanya amal oleh Allah, dengan upaya kita taqarrub kepada Allah. Dan satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kita terhadap tujuan itu tidak lain adalah ta’allum (mencari ilmu) dengan senantiasa disertai berdzikir.” Jelasnya. “anak-anak Suriah masih terus mengaji di beberapa masjid sampai sekarang meski di tengah gempuran bom” lanjut beliau seraya bercerita sedikit tentang kondisi pendidikan di Suriah.

Acara tersebut berlangsung hingga jam 22.00 WIB. Di akhir, Dr. Taufik menegaskan kembali bahwa niat taqarrub kepada Allah menjadi syarat pertama dan yang paling utama bagi para penuntut ilmu, dengan demikian, semua hal yang dicita-citakan akan tercapai.