Suatu Ketika Imam AL-Ghazali berutur : Seseorang yang berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah orang besar di bawah kolong langit ini. Ia bagai matahari memberi cahaya orang lain sedang ia sendiri bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain ia pun tetap harum.

Begitulah Al-Ghazali melukiskan orang-orang yang bekerja sebagai ustadz alias guru, mengamalkan ilmunya dengan penuh kesungguhan. Kata guru sendiri dalam bahasa Indonesia tidak dapat diterjemahkan begitu saja sama seperti dalam bahasa inggris yakni teacher. Guru memiliki arti lebih luas dibanding teacher. Dalam bahasa Sanskerta seorang guru juga orang ahli, sahabar, konselor, pendamping, dan juga pemimpin spiritual.

Pengasuh Pondok Pesantren Unggulan Amanatul Ummah, Dr.KH Asep Saifuddin Chalim, M.A, menuturkan, dirinya pernah mencoba untuk bekerja dibidang lain. Semasa ia masih muda, beliau pernah mencoba berbisnis perikanan, mengelola tambak dan kolam, tetapi gagal. Kali lain, mencoba bisnis barang antik, namun juga tak berkembang. “Pada akhirnya dunia pendidikanlah dunia saya” kata Pak Kiai.

Terlahir dari keluaraga NU tulen, Kiai Asep memang bernasab guru alias ustadz, bahkan gurunya yakni Ayahandanya, KH Abdul Chalim dari Majalengka, adalah Kiai Nasionalis yang  ikut berjuang bersama ulama-ulama besar terdahulu seperti KH. Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah untuk mendirikan Nahdlatul Ulama. Namun sejak kecil, beliau telah terbiasa mandiri. Sejak lulus SD dan dipondokkan di Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo dan berlanjut hingga meraih gelar doktor, semua diraih dengan kerja keras.

Pergumulan keras dengan dunia pendidikan menjadikan Kiai Asep mematok impian yang tinggi dari warga pondok pesantren yang berhasil dikembangkan. Kepada lebih dari 700guru/ustadz di pondoknya, beliau tak bosan-bosanya menyampaikan pesannya :”Jadilah guru yang baik atau tidak sama sekali”.

Ponpes Amanatul Ummah, yang kini mendidik sekitar 7000 santri, secara tertulis dan terbuka  mencantumkan cita-citanya, yang juga lain daripada yang lain.

Menurut Kiai Asep, para lulusan pondok modern ini dirancang akan menjadi (1) ulama besar yang akan bisa menerangi dunia ; (2) menjadi para pemimpin bangsanya juga pemimpin dunia yang akan mengupayakan terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan ;(3)menjadi konglomerat besar yang akan memberikan kontribusi maksimal bagi terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia; (4) menjadi ilmuwan dan para profesional yang berkualitas, ber-akhlaqul karimah dan bertanggungjawab.

Sang Kiai merasa sedih melihat warga negeri ini, sebagian besar muslim, masih terpinggirkan. Baik secara sosial, ekonomi, maupun intelektual. Seolah mereka bukan pemilik negeri ini.

“Amanatul Ummah, juga Institut KH Abdul Chalim, harus berada di depan. Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat kebangkitan kembali peradaban islam yang mampu menerangi duni” Kata sang Kiai pula

(Djoko Pitono)